Pages

Rabu, 02 Mei 2012

Bukan Sekedar Cinta Biasa


Suatu ketika seorang kawan bercerita perihal temannya yang sedang berjuang melawan VMJ –virus merah jambu. Teman dari kawan saya ini mengaku bahwa dia sangat sulit melupakan si akhwat yang dengan dia sadari telah membuat hatinya menjadi tak menentu. Semua ini menjadi hal yang rumit karena si ikhwan (laki-laki) maupun si akhwat (perempuan) belum siap untuk melangkah ke ikatan suci pernikahan. Yang membuat kawan saya prihatin adalah karena keadaan ini produktivitas dari ikhwan tersebut cenderung menurun.
            Pada waktu itu saya tidak bisa memberikan komentar atau pun saran apa-apa. Karena saya senndiri pun bukan seorang yang ahli dalam masalah seperti ini. Hanya kemudian saya teringat dengan salah satu buku karya Ustadz Salim A. Fillah yang berjudul Jalan Cinta para Pejuang. Mencoba mengingat kembali isi buku tersebut terlintas salah satu sub bab yang berjudul “Cinta, sebuah kata kerja”. Bab ini diawali dengan kisah Umar  ibn Al Khaththab yang begitu mudanhnya menata cintanya kepada Rasulullah dengan sekejap. Hal ini mudah dilakukan oleh Umar karena bagi beliau cinta adalah kata kerja. Maka menata ulang cinta baginya hanyalah menata ulang kerja dan amalannya dalam mencintai (hal.182).

            Entah ini sebuah contoh yang pas atau bukan tapi penyikapan Umar dapat menjadi pelajaran bahwa cinta adalah sebuah kerja, yang berarti bisa kita lakukan dan bisa pula kita tinggalkan. Hanya  perlu  niat dan kesungguhan dari kita untuk memilih –mengerjakan atau tidak.
            Lain lagi kisah sahabat dari Persia, Salman Al-Farisi. Masih dalam bab yang sama dari sebelumnya tapi sub bab yang berbeda, Sergapan Rasa Memiliki. Kisah Salman mengajarkan kita bahwa apa yang kita cintai tidak berarti menjadi sepenuhnya milik kita. Salman mencintai gadis yang hendak ia nikahi tapi ternyata si gadis lebih memilih sahabat Salman –yang sekaligus bertindak sebagai pengatar- Abud  Darda’. Tidak ada rasa kecewa pada diri Salman. Justru kemudian ia menyerahkan semua maharnya untuk abu darda’ dan sekaligus menjadi saksi pada pernikahan sahabatnya tersebut.
            Jadi bagi siapa yang sedang gelisah karena cinta, cobalah baca buku terbitan Pro-U ini. Buku dengan bahasa yang mengalir dan ringan khas ustadz Salim menghadirkan  kisah-kisah manusia pilihan dalam menghadapi persoalan ‘cinta’. Bagaimana kemudian cinta yang tumbuh dalam hati dipupuk untuk menjadi cinta sejati yang kuat bukan hanya sekedar perasaan nafsu syahwat atau cinta yang lemah dan cengeng, tapi cinta yang bukan sekedar cinta biasa.
***
Di jalan cinta para pejuang ada empat tapak
……..
tapak keempat DISIPLIN
…….
Agar cintaku bukan hanya kesenangan diri,
tapi juga ridha Ilahi
Agar aku tidak hanya dicintai orang terkasih,
tapi juga yang maha Pengasih
……
(Jalan Cinta Para Pejuang: 92)

6 Agustus 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar